Bacalah

Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu

Al Qur’an apa yang dibakar Utsman bin Affan ?

Qur’an : Al Hijr : 9

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Ustman bin Affan adalah Khalifah yang paling tua dalam sejarah Kekhalifahan diantara empat orang Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Ketika di angkat menjadi Khalifah umur Ustman 70 tahun.  Utsman di pilih berdasarkan hasil rapat enam orang tokoh yang di tunjuk oleh Umar Al Khattab ra. Mereka adalah, Ali bin Abu Thalib, Utsman bi Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff dan Thalhah anak Ubaidillah.

Pilihan jatuh kepada Utsman bin Affan setelah 5 orang tokoh mengundurkan diri,  setelah di adakan voling keseluruh masyarakat Madinah. Pemilihan Utsman di landasi beberapa alasan:

  1. Masyarakat Arab ketika itu baik Makkah maupun Madinah mempunyai kekuatan ekonomi yang sangat baik,
  2. Masyarakat merasa enggan mempunyai tokoh yang kehidupan kesehariannya tegas seperti Abu Bakar dan Umar.
  3. Ali mempunyai karakter sama seperti kedua tokoh tersebut.

Akhirnya setelah jatuh pemilihan terhadap Utsman maka tampuk kekuasaan di pegang penuh oleh Utsman bin Affan, maka jadilah ia Khalifah ketiga setelah Abu Bakar dan Umar Al Khattab.

Itulah sekelumit tentang naiknya Utsman bin Affan menjadi Khalifah Islam yang ketiga. Pada masa khalifah Utsman inilah mazab Al Quran di susun secara terperincih dengan tidak meninggalkan secuilpun melainkan termaktub keseluruhan ayat-ayat suci Al Quran itu seperti yang kita kenal sekarang ini.

Lalu apa yang di bakar Utsman?

Issu inilah yang menjadi olok-olokan oleh kaum al kafirun untuk mendiskreditkan Utsman bin Affan, sebagai tokoh yang menghilangkan, merubah dan membakar Al Quran.

Saya akan memberikan analogi seperti di bawah ini supaya mudah di mengerti oleh kaum al kafirun.

Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang menyebar dari Sabang sampai Marauke. Banyak ragam bahasa dan dialeq lokal dalam republik ini.  Ada suku Jawa, Madura, Jambi, Palembang, Melayu, Padang, Batak, Manado, Asmat, Bugis, Sunda dan lain sebagainya. Yang semuanya itu merupakan satu kesatuan suku di Negara NKRI ini. Nah Al Quran itu di turunkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan alasan bahwa seluruh suku yang ada di Negara ini mengerti bahasa Indonesia. Tidak mungkin Al Quran itu di turunkan dengan bahasa Batak sementara orang Irian tidak mengerti atau tidak mungkin Al Quran itu di turunkan dalam bahasa Bugis sementara orang Padang tidak mengerti. Akan tetapi walaupun demikian tetap ada dialeq-dialeq Al Quran itu yang terbias ke dalam bahasa lokal, seperti bahasa Jawa, bahasa Bugis, Padang, Batak dll, karena lamanya Al Quran itu terpendam di dalam dada kaum muslimin. Al Quran dengan dialeg-dialeg lokal inilah yang di bakar oleh Utsman, sedangkan dialeq aslinya tetap murni. Al Quran dengan dialeg tunggal inilah yang disusun oleh Utsman bin Affan.

Sebelum Al Quran dengan dialeg-dialeg daerah itu di bakar oleh Utsman, beliau mengutus kepada seluruh pemimpin suku untuk membicarakan permasalahan ini yang pada waktu itu hampir-hampir terjadi pertumpahan darah akibat masalah ini. Situasi yang begitu genting harus di ambil jalan tengahnya oleh Utsman baik sebagai Kepala Pemerintahan maupun sebagai pengikut setia Rasulullah SAW.

Hasil rapat menyetujui tindakan Utsman untuk membakar Al Quran dengan dialeg suku tersebut, tidak ada yang tidak menyetujui tindakan Utsman ini, sebab mereka di antara tokoh-tokoh suku tersebut juga mengerti dengan bahasa Quraisy yaitu bahasa Al Quran. Dan mereka juga mengerti dan tahu bahawa Al Quran itu di turunkan dalam bahasa nenek moyang mereka yaitu bahasa Quraisy. Jadi bahasa Quraisy itu adalah bahasa indonesianya orang arab. Seluruh orang arab mengerti bahasa Quraisy.

Jadi selain bahasa Quraisy inilah yang di bakar oleh Utsman bin Affan, jadi tidak benar Al Quran itu di ubah dan di bakar oleh Utsman.

Mudah-mudahan penjelasan saya seperti anak SD ini bisah “sangat di mengerti” oleh kaum Kristen dan tidak ada lagi fitnah di antara kita.

Dengan adanya penjelasan saya dengan gaya saya menyampaikan kisah ini semoga saja kaum Kristen tidak lagi mengolok-olok Utsman bin Affan dan kaum muslimin dengan Al Qurannya.

1. Qur’an : Ibrahim : 4

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

2. Qur’an : Thaahaa : 113

Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.

3. Qur’an : Asy-Syuaraa : 192-195

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.

Lalu mengapa harus Bahasa Quraisy?

  • Bahasa Quraisy atau bahasa Arab adalah bahasa yang sangat mudah di mengerti oleh kaum arab ketika itu, bahasa ini tidak terkontaminasi oleh bahasa apapun di dunia ini, bahasa ini berdiri sendiri bagaikan bangunan Ka’bah.
  • Orang-orang yang memusuhi nabi mayoritas adalah orang-orang Quraisy sendiri yang juga adalah keluarga Rasulullah sendiri, sebut saja Abu jahal, Abu Lahab yang kisah kedurhakaannya nya di abadikan dalam Al Quran.
  • Bahasa ini adalah bahasa Penduduk Syurga, Bahasa para malaikat dan sebagaian besar Bahasa para nabi dan Rasul.
  • Dan Bahasa Arab adalah bahasa induk untuk segala bahasa di dunia ini.

Sumber : Apa yang dibakar Utsman?

Meski saya lemah, saya akan mati

Meski saya lemah, saya akan mati.

Meski saya penguasa, saya akan mati.

Meski saya artis, saya akan mati.

Meski saya pedagang asong, saya akan mati.

Meski saya anggota dewan, saya akan mati.

Sudahkan anda mengingat mati ?

Ingatlah kematian, seperti mengingat nama anda.

1. Quran : Az Zumar: 30

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”.

2. Quran : Ali `Imran: 185

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”.

3. Quran : An Nisa’: 78

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?”

4. Quran : Al Jumu`ah: 8

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan””.

5. Quran : Qaaf: 19

“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.”

6. Quran : Al Qiyaamah: 26-30

Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,

dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”,

dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia),

dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan),

kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.

7. Quran : An Nahl: 32

(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum (keselamatan bagimu), masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.

8. Quran : Al An’am: 93

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

9. Quran : Al Mukminun: 99-100

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),

agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan

Tidak ada

Tidak ada kata seindah Allah.

Tidak ada tauladan seindah Rasulullah ( Shallallahu ‘alaihi wasallam ).

Tidak ada tuntunan seindah Islam.

Tidak ada nyanyian yang semerdu Adzan.

Tidak ada darma yang seberarti Zakat.

Tidak ada ensiklopedi sesempurna Al-Qur’an.

Tidak ada sembahyang sesempurna Shalat.

Tidak ada diet sesempurna puasa.

Tidak ada pengembaraan sesempurna Haji.

Antara Syari’ah dan Fiqh

Antara Syari’ah dan Fiqh

Nadirsyah Hosen

Di bawah ini saya tuliskan sedikit penjelasan tentang Syari’ah dan Fiqh. Seringkali kita tidak bisa membedakan keduanya, sehingga kita menjadi “alergi” dengan perbedaan pendapat. Atau, biasanya, kita “ngedumel” kepada ulama yang punya pendapat lain, seraya berkata, “kita kan umat yang satu, kenapa harus berbeda pendapat!”.

Dari penjelasan di bawah ini nanti akan terlihat bahwa kita bersatu pada masalah Syari’ah dan dimungkinkan untuk berbeda pendapat dalam masalah Fiqh.

Syari’ah memiliki pengertian yang amat luas. Tetapi dalam konteks hukum Islam, makna Syari’ah adalah Aturan yang bersumber dari nash yang qat’i.Sedangkan Fiqh adalah aturan hukum Islam yang bersumber dari nash yang zanni.

Penjelasan singkat ini membawa kita harus memahami apa yang disebut Qat’i dan apa pula yang disebut zanni.

1. Nash Qat’i

Qat’i itu terbagi dua: dari sudut datangnya atau keberadaannya dan dari sudut lafaznya.Semua ayat al-Qur’an itu merupakan qat’i al-tsubut. Artinya, dari segi “datangnya” ayat Qur’an itu bersifat pasti dan tidak mengalami perubahan. Tetapi, tidak semua ayat Qur’an itu mengandung qat’i al-dilalah. Qat’i al-dilalah adalah ayat yang lafaznya tidak mengandung kemungkinan untuk dilakukan penafsiran lain. Jadi, pada ayat yang berdimensi qat’i al-dilalah tidaklah mungkin diberlakukan penafsiran dan ijtihad, sehingga pada titik ini tidak mungkin ada perbedaan pendapat ulama. Sebagai contoh: Kewajiban shalat tidaklah dapat disangkal lagi. Dalilnya bersifat Qat’i, yaitu “aqimush shalat” Tidak ada ijtihad dalam kasus ini sehingga semua ulama dari semua mazhab sepakat akan kewajiban shalat.

Begitu pula halnya dengan hadis. Hadis mutawatir mengandung sifat qat’i al-wurud (qat’i dari segi keberadaannya). Tetapi, tidak semua hadis itu qat’i al-wurud (hanya yang mutawatir saja) dan juga tidak semua hadis mutawatir itu bersifat qat’i al-dilalah. Jadi, kalau dibuat bagan sbb:

  • Qat’i al-tsubut atau qat’i al-wurud: semua ayat Al-Qur’an dan Hadis mutawatir
  • Qat’i al-dilalah: tidak semua ayat al-Qur’an dan tidak semua hadis mutawatir

2. Nash Zanni

Zanni juga terbagi dua: dari sudut datangnya dan dari sudut lafaznya. Ayat Qur’an mengandung sejumlah ayat yang lafaznya membuka peluang adanya beragam penafsiran. Contoh dalam soal menyentuh wanita ajnabiyah dalam keadaan wudhu’, kata “aw lamastumun nisa” dalam al-Qur’an terbuka untuk ditafsirkan. Begitu pula lafaz “quru” (QS 2:228) terbuka untuk ditafsirkan. Ini yang dinamakan zanni al-dilalah.

Selain hadis mutawatir, hadis lainnya bersifat zanni al-wurud. Ini menunjukkan boleh jadi ada satu ulama yang memandang shahih satu hadis, tetapi ulama lain tidak memandang hadis itu shahih. Ini wajar saja terjadi, karena sifatnya adalah zanni al-wurud. Hadis yang zanni al-wurud itu juga ternyata banyak yang mengandung lafaz zanni al-dilalah. Jadi, sudah terbuka diperselisihkan dari sudut keberadaannya, juga terbuka peluang untuk beragam pendapat dalam menafsirkan lafaz hadis itu.

  • zanni al-wurud : selain hadis mutawatir
  • zanni al-dilalah : lafaz dalam hadis mutawatir dan lafaz hadis yang lain (masyhur, ahad)

Nah, Syari’ah tersusun dari nash qat’i sedangkan fiqh tersusun dari nash zanni.

Contoh praktis:

  1. (a) kewajiban puasa Ramadlan (nashnya qat’i dan ini syari’ah),
    (b) kapan mulai puasa dan kapan akhi Ramadlan itu (nashnya zanni dan ini fiqh)
    Catatan: hadis mengatakan harus melihat bulan, namun kata “melihat” mengandung penafsiran.
  2. (a) membasuh kepala saat berwudhu itu wajib (nash qat’i dan ini Syari’ah)
    (b) sampai mana membasuh kepala itu? (nashnya zanni dan ini fiqh)
    Catatan: kata “bi” pada famsahuu biru’usikum terbuka utk ditafsirkan.
  3. (a) memulai shalat harus dengan niat (nash qat’i dan ini Syari’ah)
    (b) apakah niat itu dilisankan (dengan ushalli) atau cukup dalam hati (ini Fiqh)
    Catatan: sebagian ulama memandang perlu niat itu ditegaskan dalam bentuk “ushalli” sedangkan ulama lain memandang niat dalam hati saja sudah cukup
  4. (a) Judi itu dilarang (nash qat’i dan ini Syari’ah)
    (b) apa yang disebut judi itu? apakah lottere juga judi? (ini fiqh)
    Catatan: para ulama berbeda dalam mengurai unsur suatu perbuatan bisa disebut judi atau tidak.
  5. (a) riba itu diharamkan (nas qat’i dan ini syari’ah)
    (b) apa bunga bank itu termasuk riba? (ini fiqh)
    Catatan: para ulama berbeda dalam memahami unsur riba dan ‘illat (ratio legis) mengapa riba itu diharamkan
  6. (a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash qat’i dan ini Syari’ah)
    (b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (ini fiqh)
    Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat (apakah mau ditutup dg jilbab atau dg kertas koran atau dengan kain biasa). Nah, masalahnya apakah paha lelaki itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Apakah rambut wanita itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Para ulama berbeda dalam menjawabnya.
  7. dan lain-lainnya

Jadi, tidak semua hal kita harus berbeda pendapat. Juga tidak semua perbedaan pendapat bisa dihilangkan. Kita tidak berbeda pendapat dalam hal Syari’ah namun boleh jadi berbeda pendapat dalam hal fiqh. (mengenai sebab-sebab ulama berbeda pendapat silahkan lihat tulisan saya “Mengapa Ulama Berbeda Pendapat“)

Kalau ulama berbeda dalam fiqh, nggak usah diributkan karena memang wilayah fiqh terbuka beragam penafsiran. Juga tidak perlu buru-buru mencap “ini bid’ah dan itu sesat” Apalagi sampai menuduh ulama pesanan. Perhatikan dulu apakah perbedaan itu berada pada level syari’ah atau level fiqh.

Wa Allahu A’lam.

Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sumber : http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html

Ayat seribu dinar

Ayat seribu dinar

Pernah dengar istilah ayat seribu dinar?

Tidak jelas juga siapa yang menamai ayat ini dengan nama ayat seribu dinar, anda yang baru pertama kali mendengar istilah ini pun tentu akan bertanya-tanya :

  • Apakah memang ada nama “ayat seribu dinar” dalam Al-Qur’an?
  • Dimana ayat seribu dinar itu berada?
  • Apa keistimewaan ayat seribu dinar tersebut?
  • Apakah dengan membaca ayat seribu dinar ini, lantas kita akan mendapatkan seribu dinar ?
  • Bagaimana cara mengamalkannya?

Adapun penamaan ayat ini dengan sebutan ayat seribu dinar nampaknya berkaitan dengan masalah kerezekian. Isi dari ayat Al-Qur’an ini berkaitan dengan rezeki dan solusi dari berbagai problematika hidup. Ayat tersebut adalah :

Qur’an: Ath-Thalaq 2-3

Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. (Ayat 2)

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ayat 3)

Rukun Islam ada 5

Rukun Islam

Rukun Islam ada 5 yaitu :

1. Membaca 2 kalimat syahadat

2. Mengerjakan shalat

3. Mengerjakan puasa

4. Membayar zakat

5. Menunaikan ibadah haji.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén