SURAT 1

Al-Faatihah

AL FAATIHAH

( PEMBUKAAN )

Bismillaahirrahmaanirrahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

2. Al Baqarah 
( Sapi Betina )
arrow-120-xxl Daftar Surat arrow-2-xxl 114. An Naas 
( Manusia )
Terjemahan Text Qur’an Ayat
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang1). بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 1
Segala puji2) bagi Allah, Tuhan semesta alam3), الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 2
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 3
Yang menguasai4) hari pembalasan5). مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ 4
Hanya Engkaulah yang kami sembah6) dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan7) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 5
Tunjukilah8) kami jalan yang lurus, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ 6
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat9). صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ 7
2. Al Baqarah 
( Sapi Betina )
arrow-120-xxl Daftar Surat arrow-2-xxl 114. An Naas 
( Manusia )

1) Berarti: saya memulai membaca Alfaatihah ini dengan menyebut nama Allah. Tiap-tiap pekerjaan yang baik itu hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya. Allah: nama Zat yang Maha Suci yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya; yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu daripada nama Allah, yang memberikan pengertian, bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian, bahwa Allah senantiasa bersifat rahmat yaitu Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
2) Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakan karena kemauannya sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji kepada Allah ialah karena Allah adalah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
3) Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang dita’ati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafazh “rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti: rabbul-bait (tuan rumah).
Aalamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai-bagai jenis dan macam seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua alam-alam itu.
4) Maalik (Yang menguasai), dengan membanjangkan “mim” yang berarti: pemilik (yang empunya). Dapat pula dibaca dengan Malik yang berarti raja.
5) Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.
6) Na’budu diambil dari Ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
7) Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata Isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri.
8) Ihdina (tunjukilah kami), terambil dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.
9) Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Muqaddimah

Surat “Al Faatihah” ( Pembukaan ) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Qur’an dan termasuk golongan Surat Makkiyah. Surat ini disebut “Al Faatihah ” ( Pembukaan ) karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Qur’an. Dinamakan “Ummul Qur’an” ( Induk Al Qur’aan ) atau “Ummul Kitaab” ( Induk Al Kitab ) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Qur’an serta menjadi inti dari kandungan Al Qur’an dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap shalat. Dinamakan pula “As Sab’ul Matsaany” ( Tujuh yang berulang-ulang ) karena ayatnya 7 dan dibaca berulang-ulang dalam shalat. Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Qur’an yatitu :

1. Keimanan

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2 dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber dari segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Di antara nikmat itu adalah nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata “Rab” dalam kalimat “Rabbul ‘aalaamin” tidak hanya berarti “Tuhan” dan “Penguasa”, tetapi juga mengandung arti Tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan lah yang Maha Berkuasa di alam ini.

Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini harus lah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan ( ke-tauhid-an ) itu merupakan masalah yang pokok, maka dalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5 yaitu ” Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” ( Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan ). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.

Yang dimaksud dengan “Yang menguasai hari pembalasan” ialah pada hari itu Allah yang berkuasa,  segala sesuatu tunduk pada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahal terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. “Ibadat” yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah.

2. Hukum-hukum

Jalan kebahagian dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “hidayah” disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.

3. Kisah-kisah

Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebagian besar dari ayat-ayat Al Qur’an memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi nikmat dalam ayat ini ialah para nabi, para shiddiqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihin ( orang-orang yang saleh). “Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat” ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat di dalam ayar-ayat Al Qur’an pada surat-surat yang lain.

Penutup

Surat “Al Faatihah” ini melengkapi unsur-unsur pokok syari’at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Qur’an yang 113 surat berikutnya.

Persesuaian antara surat “Al Faatihah” dengan surat “Al Baqarah” dan surat-surat sesduahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang seduahnya.

Dibagian akhir dari surat Al Faatihah disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan yang lurus, sedang surat Al Baqarah dimulai dengan penunjukkan “Al Kitab” ( Al Qur’an ) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

Referensi :